Pelinggih Ratu Ngurah (atau Panglurah) adalah pelinggih pemujaan dalam konsep Hindu Bali yang distanakan untuk pemujaan kepada manifestasi Tuhan Pelinggih ini juga dikenal sebagai tempat untuk memohon perlindungan dari berbagai bahaya dan gangguan, serta untuk memohon kekuatan saat melakukan laku tapa brata.
Nama Pencipta
-
Negara Asal Pencipta
Indonesia
Gaya Pencipta
Gaya Arsitektur Bali
Tahun Pembuatan
-
Periode Pembuatan
-
Bahan Pembuatan
Batu Bata, Paras
Teknik Pembuatan
Ukir
Ornamen
Ukiran, Pahatan Batu
Kondisi Fisik
Baik
Tingkat Kerusakan
Tidak Ada Kerusakan
Provinsi
tidak ada data
Kabupaten
tidak ada data
Kecamatan
tidak ada data
Desa/Kelurahan
tidak ada data
Alamat
Garis Lintang
-8.436456
Garis Bujur
115.224752
Fungsi
Pelinggih Ratu Ngurah (atau Panglurah) adalah pelinggih pemujaan dalam konsep Hindu Bali yang distanakan untuk pemujaan kepada manifestasi Tuhan, khususnya Bhatara Kala (putra Bhatara Siwa) dengan bhiseka Ratu Ngurah, yang berfungsi sebagai penjaga (pecalang) dan pengawal bagi para dewa. Pelinggih ini juga dikenal sebagai tempat untuk memohon perlindungan dari berbagai bahaya dan gangguan, serta untuk memohon kekuatan saat melakukan laku tapa brata.
Pemilik
Desa
Sejarah Kepemilikan
Pelinggih ini mencerminkan penghormatan yang mendalam terhadap tradisi dan warisan budaya Hindu-Bali. Masyarakat Bali melestarikan dan merawat pelinggih ini sebagai bagian integral dari identitas budaya mereka.
Nilai Sejarah
Nilai sejarah pelinggih ini tercermin dari perannya sebagai warisan leluhur yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Keberadaannya di pura gelang agung sendiri biasa digunakan disaat ada klian yang hendak menjabat di desa dipercaya akan mendapatkan kelancaran saat masa menjabat jadi pelinggih ini biasa disungsung sebagai prekanggen klian sekadi klemakan/sekala. Hal tersebut menjadi bukti kesinambungan tradisi keagamaan yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Nilai Budaya
Pelinggih adalah representasi fisik dari tempat bersemayamnya para dewa, leluhur, atau manifestasi Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa)
Nilai Estetika
Pelinggih ini sering kali dihias dengan ukiran-ukiran halus dan ornamen-ornamen yang rumit, yang menggambarkan adegan-adegan mitologis, motif alam, atau pola-pola geometris. Keindahan ukiran ini menambahkan sentuhan artistik yang kuat pada struktur pelinggih.
Nilai Ekonomi
Pelestarian dan perawatan pelinggih ini juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi penduduk setempat, misalnya sebagai petugas pemeliharaan, pemandu wisata, atau pengelola kegiatan keagamaan di pelinggih tersebut. Hal ini dapat membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Nama Pencipta
-
Negara Asal Pencipta
Indonesia
Gaya Pencipta
Gaya Arsitektur Bali
Tahun Pembuatan
-
Periode Pembuatan
-
Bahan Pembuatan
Batu Bata, Paras
Teknik Pembuatan
Ukir
Ornamen
Ukiran, Pahatan Batu
Panjang
86 cm m
Lebar
80 cm m
Tinggi
230 cm m
Berat
- Kg
Volume
- m3
Kondisi Fisik
Baik
Tingkat Kerusakan
Tidak Ada Kerusakan
Provinsi
tidak ada data
Kabupaten
tidak ada data
Kecamatan
tidak ada data
Desa/Kelurahan
tidak ada data
Alamat
Garis Lintang
-8.436456
Garis Bujur
115.224752
Fungsi
Pelinggih Ratu Ngurah (atau Panglurah) adalah pelinggih pemujaan dalam konsep Hindu Bali yang distanakan untuk pemujaan kepada manifestasi Tuhan, khususnya Bhatara Kala (putra Bhatara Siwa) dengan bhiseka Ratu Ngurah, yang berfungsi sebagai penjaga (pecalang) dan pengawal bagi para dewa. Pelinggih ini juga dikenal sebagai tempat untuk memohon perlindungan dari berbagai bahaya dan gangguan, serta untuk memohon kekuatan saat melakukan laku tapa brata.
Pemilik
Desa
Sejarah Kepemilikan
Pelinggih ini mencerminkan penghormatan yang mendalam terhadap tradisi dan warisan budaya Hindu-Bali. Masyarakat Bali melestarikan dan merawat pelinggih ini sebagai bagian integral dari identitas budaya mereka.
Nilai Sejarah
Nilai sejarah pelinggih ini tercermin dari perannya sebagai warisan leluhur yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Keberadaannya di pura gelang agung sendiri biasa digunakan disaat ada klian yang hendak menjabat di desa dipercaya akan mendapatkan kelancaran saat masa menjabat jadi pelinggih ini biasa disungsung sebagai prekanggen klian sekadi klemakan/sekala. Hal tersebut menjadi bukti kesinambungan tradisi keagamaan yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Nilai Budaya
Pelinggih adalah representasi fisik dari tempat bersemayamnya para dewa, leluhur, atau manifestasi Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa)
Nilai Estetika
Pelinggih ini sering kali dihias dengan ukiran-ukiran halus dan ornamen-ornamen yang rumit, yang menggambarkan adegan-adegan mitologis, motif alam, atau pola-pola geometris. Keindahan ukiran ini menambahkan sentuhan artistik yang kuat pada struktur pelinggih.
Nilai Ekonomi
Pelestarian dan perawatan pelinggih ini juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi penduduk setempat, misalnya sebagai petugas pemeliharaan, pemandu wisata, atau pengelola kegiatan keagamaan di pelinggih tersebut. Hal ini dapat membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat lokal.